Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 11, 2015

Menyesal Atas Perubahan

Apakah kita merasa sedih dan kecewa atas apa yang telah gagal kita lakukan? Padahal kita memiliki beberapa energi yang kuat untuk bergerak sendiri ke depan. Apakah kita merasa menyesal atas kesempatan yang hilang? Menyesal yang menyakitkan memiliki tujuan yang positif. Karena meskipun kesempatan terakhir hilang, bahkan yang lebih kuat telah muncul untuk mengambil tempat mereka. Apa yang lebih baik adalah bahwa kita sekarang punya alasan lebih dari sebelumnya untuk membuat sebagian besar dari mereka. Kita dapat dengan mudah dan alami mengubah kesedihan menjadi motivasi yang besar. Kita dapat mengubah penyesalan menjadi tekad kuat dan tak terbendung oleh apapun. Rasakan intensitas energi kita sendiri. Sadarilah,kita bisa mengarahkan energi untuk setiap arah yang kita pilih. Pilih untuk titik ke depan, sejalan dengan tujuan kita tertinggi dan mimpi paling berharga. Sekarang adalah waktu yang penting, dan sekarang kita dapat membuat hidup yang besar | Cecep Y Pramana Twitter: @...

Ringan di Mata Manusia, Tinggi di Mata Allah SWT

Gambar
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah Saw bersabda: فاتقوا النار ولو بشق تمرة. وفي رواية: فمن لم يجد فبكلمة طيبة “ Berlindunglah dari api neraka sekalipun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma .” Dalam riwayat lain ada tambahan, “ Kalau itu pun tidak ada (kurma), maka (sedekah) dengan kata-kata yang baik ”. Inilah gambaran konsistensi keimanan seseorang untuk senantiasa beramal shalih. Konsisten sedekah walaupun sedikit adalah awal untuk bersedekah yang lebih banyak. Ibnu Hajar mengatakan, “ Tidak boleh meremehkan dan memandang rendah orang yang bersedekah dengan sedikit hartanya, sedikitnya saja sudah bisa menghindarkannya dari api neraka ”. Kata “sebutir kurma” dalam hadits di atas merupakan mubalaghah fil qillah, kiasan tentang amal-amal yang ringan, bahkan paling ringan di mata manusia, namun bernilai tinggi di mata Allah Swt. Allah SWT berfirman: فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ - الزلزلة 7 “ M...

Akupun Tidak Menjadi Orang Yang Manja Dalam Dakwah Ini

Gambar
Abdul Fattah Abu Ismail murid Imam Hasan Al Banna pernah kelelahan setelah sekian lama perjalanan yang ia tempuh hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur nyenyak hingga terbangun. Tak berselang lama, ia pun terbangun dan segera menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali. Selepas itu Abdul Fattah Abu Ismailpun pamit untuk ke kota lainnya. Lantaran keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi agar bisa melanjutkan perjalanan berikutnya dengan nyaman. Namun Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikan ongkos yang diberikan kepadanya itu sambil mengatakan, “Mohon maaf ibu, saya tidak bisa menerima ongkos ini, ketahuilah ibu, dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja”. Dia beranggapan bahwa dengan naik taksi bisa membuat dirinya manja dengan dakwah ini. Zainab Al Ghazalipun menjawab: “Ya akhi, Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan...