Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 10, 2008

Kalahkan Diri Kita, Bukan Orang Lain

Kemenangan kita bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan kita atas diri kita sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan kita adalah pertandingan untuk mengalahkan ketakutan, keengganan, keangkuhan dan semua beban-beban yang menambat diri kita di tempat start kita. Jerih payah kita untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi bukan lahir karena rasa iri, dengki atau dendam pada orang lain. Kita tahu, keberhasilan sejati akan memberikan kebahagiaan sejati. Sedangkan kebahagiaan sejati tak mungkin diraih oleh motivasi yang ternoda. Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju orang lain. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah orang lain akan menyusulnya. Inilah pelari sejati yang mengejar perbaikan diri. Ia tidak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan diri untuk memecahkan rekornya sendiri. Ia ingin lebih baik. Ia berkompetisi dengan dirinya sendiri bukan dengan ...

Jangan Pandang Hutan dari Semaknya

Tak ada sesuatu dalam hidup ini yang perlu ditakutkan. Kita hanya perlu untuk mengerti. Ketakutan berasal dari keterbatasan pikiran. Bukalah pikiran untuk memahami ketakutan kita. Maka kita akan menemukan keberanian untuk menghadapinya. Jangan sembunyikan, tunda atau berhenti untuk memecahkan masalah kita. Karena bahayanya bukan karena masalah itu semakin membesar, namun pikiran kita yang semakin kerdil; pandangan kita yanng semakin sempit. Berjalan menuju keberhasilan kita adalah berjalan di hutan lebat. Jangan berhenti hanya semak belukar. Dan jangan pandang hutan dari semaknya belaka. Kita harus mampu melewatinya. -- Sekali kita mampu mengatasi ketakutan, kita memiliki ketahanan untuk menghadapi kesulitan serupa. Pahami bahwa semua itu sangat baik bagi kekuatan kita untuk menghadapi kesulitan yang lebih besar.

Jangan mengeluh

Ketika kita bercermin pagi ini, yakinlah bahwa sosok yang kita temui di sana adalah diri kita yang sempurna. Tiada cacat. Tiada kurang. Tak perlu kita mempertanyakan mengapa kita berparas seperti itu, berwarna kulit ini atau bertubuh demikian. Kita telah dianugerahi sosok terbaik; perlengkapan sempurna untuk menjalankan misi kita. Carilah kekuatan pada diri kita sendiri. Terlalu banyak orang takut pada bayangannya sehingga mencari bayangan orang lain.

Jangan Biarkan Bisa Menjadi Tidak Bisa

Mulailah mengerjakan sesuatu. Jangan biarkan pertanyaan memenuhi benak kita sehingga melunturkan kemampuan kita untuk melakukan sesuatu. Memang, banyak hal yang tidak bisa kita lakukan saat ini. Karena itu tinggalkan saja. Kerjakan sesuatu yang kita bisa, meski hanya menuliskan sebuah titik. Jangan biarkan sesuatu yang tak bisa kita kerjakan malah menyurutkan niat kita untuk mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan. Perhatikan saja keberanian kita untuk mengambil tindakan. Sekecil apa pun langkah pertama yang kita tapakkan adalah langkah besar bagi keberanian kita. Tak perlu disibukkan dengan pertanyaan: mana yang lebih dulu, "Telor" atau "Ayam". Yang perlu kita lakukan adalah melihat apa yang ada dalam genggaman dan menghargainya. Yaitu, dengan mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya. Bila telur yang berada dalam genggaman, eramilah hingga ia menetas menjadi seekor anak ayam. Sedangkan, bila ayam yang berada dalam genggaman, peliharalah sampai bisa menghasilkan telur...

Jangan Bersembunyi di Balik Bayangan Orang Lain

Banyak orang bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain, sekedar untuk ikut menikmati sedikit keberhasilan. Mereka mengakui ide, jerih payah, karya dan keberhasilan orang lain sebagai milik mereka. Bila kita melakukan hal ini, maka ini bukan saja kegagalan kita, namun juga kekalahan telak bagi integritas kita. Akuilah keberhasilan orang lain dengan menghargai dan menghormati apa yang telah mereka raih. Nyatakan dengan tulus bahwa keberhasilan ini bukan milik kita. Keberhasilan semu bagaikan pakaian indah yang terpajang di etalase toko. Seberapa bagus itu kita katakan, tetap saja kita tidak berhak mengenakannya. Bersembunyi di balik bayang-bayang mungkin membuat kita nyaman. Namun apa yang bisa diberikan sebuah bayangan hanyalah kegelapan. Selama kita berjalan di bawah remang-remang, bagaimana kita bisa mengetahui tempat yang dituju? Karena itu, keluarlah. Tunjukkan kemampuan kita sendiri. Berjalan di bawah terik matahari memang selalu melelahkan. Namun, keringat itu adalah keringat ...

Jangan Berhenti, atau Mati

Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan kita. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Kita hanya perlu menyadari itu. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberikan kepuasan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari kita. Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih cepat macet. Mesin yang tak pernah dinyalakan lebih cepat berkarat. Kaki yang tak pernah berolahraga lebih cepat terkena rematik. Hanya perkakas yang jarang digunakanlah yang kita simpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan kunci kebahagiaan kita. -- Jangan berhenti untuk bergerak meraih keberhasilan kita, atau kita akan lebih cepat tua dan tak berguna .

Jangan Abaikan Sekecil Apa pun Usaha Kita

Apa pun tindakan kita, selalu memberikan hasil. Sekecil apa pun upaya yang kita lakukan tak pernah berakhir dengan hampa. Bila usaha kita tidak lagi penting bagi kita, mungkin kita tak memiliki tujuan yang jelas. Atau kita tidak menatap cukup fokus pada tujuan kita. Jangan abaikan tujuan kita. Upaya kecil di arah yang tepat pada tujuan jauh lebih berharga daripada usaha raksasa yang menghabiskan tenaga. Seorang pelompat jauh takkan mampu melompat cukup jauh hanya dengan satu sentakan kuat. Ia memerlukan lari-lari kecil, sebelum menghempaskan diri pada lompatan yang besar. Jangan remehkan langkah-langkah kecil kita. Bobot tidak harus berbentuk besar. Karena nilai tidak cukup diukur di atas timbangan atau mistar. Nilai adalah seberapa dekat kita dengan tujuan dan harapan-harapan. Dan hanya kita yang bisa mengukurnya. Karena kita yang memiliki dan meraih tujuan itu. -- Susunlah prioritas kegiatan kita. Bukan masalah kecil atau besar. Namun harga yang harus dibayar oleh tujuan kita .

Hari Istirahat adalah Hari Matahari

Hargailah waktu istirahat kita. Istirahat bukanlah saat berhenti yang tak menghasilkan produktivitas apa-apa. Atau sekedar waktu luang di antara kesibukan. Istirahat adalah bergerak maju dengan nafas yang teratur dan langkah yang ringan. Jangan memacu diri kita dengan kecepatan yang sama. Suatu saat kita akan melalui tikungan, tanjakan atau curaman. Di situ kita perlu memindahkan persneling diri kita, menurunkan kecepatan, meringankan kumparan. Saat itulah kita harus menghirup nafas dalam-dalam, dan merasakan kesegaran baru. Istirahat diadakan bukan untuk melupakan tujuan, namun memberikan kesempatan untuk memperoleh kesadaran akan diri kita, demi sebuah langkah baru, penciptaan baru, pada jalan keberhasilan kita. Itulah maksud dari rekreasi. Tak salah memang, bila orang Inggris menyebut hari Minggu sebagai Sunday, hari matahari. Dan, itu bukanlah hari libur untuk melangkah, namun hari untuk menyadari bahwa ada matahari dalam hidup kita. Cahaya matahari adalah sumber energi yang menumb...

Hargailah Diri Kita Dengan Menghargai Tubuh Kita

Kita memiliki permata yang harus diletakkan di tempat terhormat, yaitu harga diri kita. Letakkanlah harga diri kita pada tubuh yang terhormat. Perlakukanlah diri kita seperti meletakkan lukisan di bawah cahaya lampu terbaik. Tubuh adalah anugerah. Hanya orang-orang yang berharga diri rendah saja yang mengabaikan dan menyia-nyiakan tubuhnya. Di dalam tubuh yang terhormat terdapat diri yang terhormat. Kita takkan bisa memahat patung yang indah dari kayu lapuk. Kita takkan mampu membangun tembok kokoh dari tanah humus. -- Bukan karena tubuh kita kuat kita menjadi terhormat, namun karena kita terhormatlah tubuh kita menjadi kuat .

Hanya Dalam Diam Kita Dapat Memperhatikan

Saat kita tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan kita harus diam adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan. Bagaimana kita bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan pandangan kita. Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya. Butiran mutiara indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut segera memenuhi mulutnya. Inilah ibarat, kekuatan kita untuk diam. Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diamnya para bijak. Untuk itu, kita perlu berusaha membukanya sekuat tenaga. Bukankah pepatah mengatakan, " diam adalah emas ". -- Sekali kita membuka mulut, kita akan temui betapa banyak kalimat-kalimat meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-...

Peka pada suara alam

Dengan suara apakah kita memulai hari kita? Teriakan bahwa hari sudah siang? Berita TV pagi yang menayangkan kegelisahan? Pekik radio tetangga yang bersahut-sahutan? Betapa banyak orang memulai harinya dengan keriuhan. Padahal mereka tahu, sepanjang harinya mereka akan mengalami keributan yang lebih ribut. Lalu, dengan suara apakah kita menutup hari kita? Omelan yang menyuruh kita tidur dan mematikan lampu? Dialog TV yang membingungkan? Kentongan peronda bertalu-talu? Betapa banyak orang menutup harinya dengan keriuhan pula. Bertanyalah pada diri sendiri, manakah yang lebih menentramkan hati, memulai dan menutup hari dengan keriuhan atau ketenangan? Pilihlah ketenangan! Bertemanlah dengan kesunyian. Akrabilah kesenyapan. Bila kita lebih suka berada dalam keriuhan, maka pilihlah keriuhan suara alam. Suara air terjun yang bergemuruh jauh lebih menyehatkan pikiran dan jiwa kita. Demikian pula, suara semilir angin, hujan deras, halilintar, deburan ombak, kicau burung, kukuruyuk a...

Carilah Sisi Baik Dari Orang Lain

Satu-satunya hal yang akan ditunjukkan oleh orang lain, bila kita meminta, adalah sisi baiknya. Orang cenderung menutupi kelemahannya. Orang selalu berharap kebaikannya bisa dirasakan oleh orang lain. Bila kita memuji dengan tulus kebaikan seseorang, ia akan berbuat lebih baik lagi. Bila kita menunjukkan minat dan penghargaan pada karya seseorang, ia akan melakukan lebih bagus lagi. Jadi, untuk apa mencari sisi buruk orang lain. Ini bukan saran agar kita menjadi menyenangkan dan disukai oleh orang. Namun, agar kita bertindak efektif, produktif dan efisien. Bukankah tujuan manajemen kita adalah menggali apa yang lebih baik dari organisasi kita? Bila kita mencela lukisan anak TK, ia takkan menggambar lagi untuk kita. Bila kita mencemooh hasil kerja tukang batu, ia takkan memenuhi panggilan kita lagi. Mencari sisi baik orang lain, bukan sekedar memuji. Namun memberikan kepercayaan. Hanya orang yang percaya yang mau mengeluarkan seluruh kemampuannya. Pada akhirnya, dengan mencari sisi baik...

Carilah Kesadaran Dalam Diri Kita

Akuilah bahwa kita takkan memiliki semua jawaban atas pertanyaan hidup ini. Hidup tak sekedar pertanyaan. Hidup adalah misteri. Mudahnya, kita tak perlu mencari semua jawaban. Carilah kesadaran akan diri kita. Kita adalah sosok unik yang tercipta dari keputusan dan pengalaman hidup, bagaimana kita akan menggunakan cermin orang lain untuk menemukan kesadaran akan diri sendiri. Dan perjalanan terpenting bagi setiap manusia adalah perjalanan ke dalam hati, menemukan diri sejati. Semakin tinggi kita mendaki bukit, kita tiba di kaki gunung. Semakin tinggi kita mendaki gunung, kita tiba di kaki mahameru. Semakin tinggi kita memanjat mahameru, kita tiba di kaki langit. Kini kita tak mungkin mendaki lagi, kita perlu terbang melayang. Hingga seperti Icarus yang lebur dalam sentuhan cahaya matahari. :: Tak bisa kita memberikan sesuatu pada dunia ini bila tak tahu siapa diri kita sendiri .