Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 16, 2008

Raihlah Sukses Dengan Membantu Orang Lain Sukses

Ada dua cara untuk mendaki karier kita. Menginjak pundak orang lain, atau meminta orang lain mengangkat kita. Keduanya bisa membawa kita ke atas. Bedanya hanya pada berapa lama kita sanggup bertahan di sana. Mungkin kita beranggapan, tak semua orang mau menolong kita. Bukankah mereka disibukkan dengan langkah mereka sendiri. Jika demikian, mulailah dengan menolong orang lain meraih keberhasilan. Dalam lomba panjat pinang, kita harus merelakan pundak kita diinjak oleh orang lain. Dan pundak orang di atas kita pun diinjak oleh orang lain lagi. Menaklukkan licinnya pinang tak bisa dilakukan sendiri. Sadarilah ketika kita di atas karier, sadar atau tidak, kita mungkin telah menginjak pundak orang lain. Atau, orang lain telah membantu kita naik. Seorang bijak pernah berkata, raihlah sukses dengan membantu orang lain menggapai sukses mereka. Karier kita harus ditopang oleh tiang kokoh. Yaitu, keberhasilan orang-orang di sekitar kita berkat bantuan kita.

Terus pererat persahabatan kita

Periksalah kembali persahabatan yang pernah kita rajut. Apakah masih terbentang di sana? Atau kita telah melupakannya jauh sebelum ini. Bekerja keras dan meniti jalan karier bukan berarti memisahkan kita dari persahabatan. Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi; selalu mengerjakan apa pun sendiri. Memang pohon yang menjulang tinggi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh bersemak-semak. Demikiankah hidup yang ingin kita jalani? Bukan. Jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita. Binalah persahabatan. Kita akan merasakan betapa kayanya hidup kita. Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Dan sahabat kita yang terdekat adalah keluarga kita. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban kita, karena di dalam persahabatan tidak ada perhitungan. Di sana kita belajar menghindari hal-hal yang tidak kita setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang kita ...

Perhatikan Integritas Kita

Bukan karena kita tak memiliki seorang pun pengikut, kita tak berhak disebut pemimpin. Setiap dari kita tak lepas dari seorang pengikut, yaitu diri kita sendiri. Sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri, intelegensi dan perasaan kita sendiri. Pemimpin sejati mencemaskan apa yang terjadi dalam diri sendiri lebih dari apa yang terjadi di belakang mereka. Karenanya, satukan pikiran, perasaan dan tindakan pada tujuan. Maka kita akan memiliki integritas. Karenanya, pimpinlah diri kita sendiri lebih baik daripada orang lain. Maka kita akan menjadi teladan. Karenanya tunjukkan bahwa kita bertanggungjawab penuh pada diri dan tujuan. Maka kita akan meraih kepercayaan. Tidak ada harga murah bagi sebuah kepercayaan. Hanya integritas kuatlah yang mampu membayarnya tunai

Pertandingan Belum Usai Hingga Benar-benar Usai

Jangan pernah berkata "tidak akan pernah". Itu menutup semua pintu. Mengabaikan semua kesempatan dan perbaikan. Sekaligus mengecilkan arti diri kita. Tak seorang pun tahu semua jawaban. Namun sebuah kemungkinan pasti datang bila kita bersedia membuka pintu cukup lebar. Ubahlah ketertutupan dengan memberikan maaf. Sediakan ruang yang lebar bagi orang lain untuk mengetuk pikiran kita. Mengatakan "tidak akan pernah" berarti menolak masa depan yang pasti datang. Tidak pernah adalah tidak ada, kecuali dalam kesempitan pikiran yang berasal dari kesombongan kita. Tak seorang pun bisa menolak kita kecuali pikiran kita sendiri. Begitu pula, kita takkan kuasa menolak orang lain kecuali dalam pikiran kita. Terimalah segala kemungkinan biarpun tampaknya bagai keajaiban. Katakan bahwa mereka boleh datang kembali suatu saat. Sampaikan bahwa mereka diijinkan untuk menghubungi lagi esok. Jangan sekali-kali memaku harga mati. Sebelum peluit ditiupkan, pertandingan masih berlagsung. ...

Percaya Diri (PeDe) adalah Kunci Keberhasilan

Berpikirlah bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Pada saat kita merasa bisa, kita telah memiliki kunci pertama keberhasilan kita, yaitu kepercayaan diri. Jauhilah orang-orang yang berusaha memadamkan obor semangat kita. Mereka takkan pernah bisa menolong kita sebagaimana mereka takkan pernah bisa menolong diri mereka sendiri. Rasa percaya diri bukan saja mendorong kita untuk bisa, ia membentuk diri kita. Tanamkan rasa percaya diri sekuat mungkin. Teriakkan bahwa kita bisa hingga kita benar-benar mendengarkannya. Gores dalam-dalam di lempengan hati kita.Pukul kuat-kuat dada kita. Pastikan kita merasakan rasa bisa kita membakar seluruh tubuh, sebagaimana bahan bakar membakar roket yang membawa kita melejit pada kenyataan bahwa kita memang bisa melakukannya. Percaya diri adalah bahan bakar yang tak kenal habis. Ia berlipat ganda begitu kita terus melangkah maju.