Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 13, 2012

Hidup untuk Yang Maha Hidup

Nabi SAW pernah menggambarkan bahwa hidup ini tidak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tiada batas. Oleh karena itu, bekal perjalanan tiada batas itu mesti disiapkan semaksimal mungkin. Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 197). Allah SWT menggariskan kepada kita tentang kehidupan akhirat. “ Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal .” (QS Al A’laa: 17). Kehidupan jasad kita hanyalah sementara di dunia. Sedangkan kehidupan ruh, ia akan mengalami lima fase, yaitu: alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Berarti hidup di dunia hanya terminal pemberhentian menuju akhirat yang kekal.

Keluarga muslim, harus jadi keluarga SAMARA

Umumnya, setiap orang di dunia ini, ketika akan membentuk sebuah keluarga, maka ia akan memulainya dengan mencari seorang istri. Hal ini berlaku universal, tidak memandang suku bangsa, etnis, atau agama tertentu saja. Sedangkan, seorang muslim yang akan membentuk sebuah keluarga sakinah, mawaddaj dan rahmah (SAMARA) hendaknya memulai dengan mencari “seorang ibu bagi anak-anaknya kelak”. Sekilas, keduanya tampak sama, akan tetapi sesungguhnya sangat berbeda esensinya. Tatkala seseorang mencari seorang istri sebagai pendamping hidupnya, maka biasanya ia lebih berorientasi pada fisik belaka. Mulai dari yang wajahnya cantik, hidung mancung, lulusan PTN ternama, kulit putih, dan seterusnya. Sedangkan, jika seseorang mencari sosok wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak, maka ia akan berfikir selangkah lebih maju. Bagaimanakah sosok anak-anak yang diidamkannya kelak? Anak yang shaleh, berakhlak mulia, berjiwa militan, dan seterusnya, maka atas dasar itulah ia mencari pas...

Hidup secara langsung

Jangan puas diri hanya dapat menatap gambar pada layar. Coba rasakan tekstur , karya nyata dan beragam dari kehidupan seperti yang kita aktif berpartisipasi di dalamnya. Carilah orang lain di mata, tidak hanya melalui kamera. Terlibat dalam percakapan yang panjang dan bermakna, tidak hanya di ‘update’ secara disingkat. Hiduplah secara langsung. Mengalami apa rasanya kepenuhan dan kepahitan hidup yang mereka alami.

Tradisi mengaji

Puluhan tahun silam di setiap rumah di tempat tinggal saya, Komplek PLN PLTU Tanjung Priok, Jakarta Utara selepas maghrib datang selalu terdengar lantunan ayat suci Alquran dari rumah ke rumah. Tradisi ini, kini sudah mulai menghilang seiring perkembangan zaman, arus globalisasi dan transformasi budaya yang sangat cepat berkembang terjadi saat ini. Lantunan ayat suci alquran ini, kini sudah tergantikan oleh sinetron-sinetron ‘penyekat’ waktu. Tradisi mengaji di waktu selepas magrib sambil menunggu datangnya waktu shalat isya adalah warisan ‘masa lalu’ yang terjadi di banyak daerah di Indonesia yang telah mampu membentuk karakter masyarakat yang Qurani. Namun kini...lampu pijar itu tetap harus terus dinyalakan